|
KELUARGA SADAR GIZI Andre seorang anak laki – laki berusia 12 bulan terpaksa dibawa ke puskesmas, karena menderita gizi buruk dengan komplikasi penyakit diare. Dalam kesehariaannya Andre diasuh oleh neneknya, karena kesibukan kedua orangtuanya. Mulai usia 3 bulan, Andre sudah tidak diberi ASI lagi dan hanya diberi susu botol. Andre tidak pernah dibawa ke posyandu yang ada di daerahnya, sehingga pertumbuhannya tidak terpantau. Tanpa disadari hari demi hari berat badannya mengalami penurunan dan kurus sekali. Kondisi Andre menjadi lemah dan sakit – sakitan. Apakah kejadian yang menimpa Andre harus dialami oleh anak – anak lain ? (Suara Kita, 13 Agustus 2004 ) Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi kalau Keluarganya Sadar Gizi Tetapi ………………… siapa yang bertanggung jawab menyadarkan keluarga Andre ? Apa latarbelakang perlunya KADARZI ? Kasus Andre merupakan salah satu contoh kasus yang masih dialami oleh sebagian balita kita. Masalah gizi terjadi di setiap siklus kehidupan, dimulai sejak dalam kandungan (janin), bayi, anak, dewasa dan usia lanjut. Periode dua tahun pertama kehidupan merupakan masa kritis, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Gangguan gizi yang terjadi pada periode ini bersifat permanen, tidak dapat dipulihkan walaupun kebutuhan gizi pada masa selanjutnya terpenuhi. Sekitar 30 Juta wanita usia subur menderita kurang energi kronis (KEK), yang bila hamil dapat meningkatkan risiko melahirkan BBLR. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 350 ribu bayi BBLR ( <2500 gram ), sebagai salah satu penyebab utama tingginya angka gizi kurang dan kematian balita. Pada tahun 2005 terdapat sekitar 5 Juta balita gizi kurang ; 1,7 juta diantaranya menderita gizi buruk. Pada usia sekolah , sekitar 11 juta anak tergolong pendek sebagai akibat dari gizi kurang pada masa balita. Anemia Gizi Besi ( AGB ) diderita oleh 8,1 juta anak balita, 10 juta anak usia sekolah, 3,5 juta remaja putri dan 2 juta ibu hamil. Sekitar 3,4 juta anak usia sekolah menderita Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Sementara masalah gizi kurang dan gizi buruk masih tinggi, ada kecenderungan peningkatan masalah gizi lebih sejak beberapa tahun terakhir. Hasil pemetaan gizi lebih di wilayah perkotaan di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 12 % penduduk dewasa menderita gizi lebih. Penyebab Masalah Gizi Pada tingkat individu, keadaan gizi dipengaruhi oleh asupan gizi dan penyakit infeksi yang saling terkait. Apabila seseorang tidak mendapat asupan gizi yang cukup akan mengalami kekurangan gizi dan mudah sakit. Demikian juga bila seseorang sering sakit akan menyebabkan gangguan nafsu makan dan selanjutnya akan mengakibatkan gizi kurang. Ditingkat keluarga dan masyarakat, masalah gizi dipengaruhi oleh : a. Kemampuan keluarga dalam menyediakan pangan bagi anggotanya baik jumlah maupun jenis sesuai kebutuhan gizinya. b. Pengetahuan, sikap dan keterampilan keluarga dalam hal : 1) Memilih, mengolah dan membagi makanan antar anggota keluarga sesuai dengan kebutuhan gizinya 2) Memberikan perhatian dan kasih sayang dalam mengasuh anak 3) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan dan gizi yang tersedia, terjangkau dan memadai ( Posyandu, Pos Kesehatan Desa , Puskesmas dll ) c. Tersedianya pelayanan kesehatan dan gizi yang terjangkau dan berkualitas d. Kemampuan dan pengetahuan keluarga dalam hal kebersihan pribadi dan lingkungan. Rencana Starategis Departemen Kesehatan RI Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ( RPJMN) Bidang Kesehatan 2005-2009 menetapkan 4 (empat) sasaran pembangunan kesehatn, satu diantaranya adalah menurunkan prevalensi gizi kurang menjadi setinggi – tingginya 20 %. Guna mempercepat pencapaian sasaran tersebut, Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005 – 2009 telah ditetapkan 4 strategi utama : 1) Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat; 2) Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas; 3) Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan; dan 4) Meningkatkan pembiayaan kesehatan. Dari empat strategi utama tersebut telah ditetapkan 17 sasaran prioritas, satu diantaranya adalah seluruh keluarga menjadi Keluarga Sadar Gizi ( KADARZI) sebagai salah satu tujuan Desa Siaga. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumberdaya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah – masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan. Apa itu KADARZI ? ☼ KELUARGA SADAR GIZI adalah keluarga yang berperilaku gizi seimbang, mampu mengenali dan mengatasi masalah gizi anggotanya. ☼ PERILAKU GIZI SEIMBANG adalah pengetahuan, sikap dan praktek keluarga meliputi mengkonsumsi makanan seimbang dan perilaku hidup sehat. ☼ MAKANAN SEIMBANG adalah pilihan makanan keluarga yang mengandung semua zat gizi yang diperlukan masing – masing anggota keluarga dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan bebas dari pencemaran. Mengapa sasarannya Keluarga ? ☼ PENGAMBILAN KEPUTUSAN dalam bidang pangan, gizi dan kesehatan dilaksanakan terutama di tingkat keluarga. ☼ SUMBER DAYA dimiliki dan dimanfaatkan di tingkat keluarga. ☼ MASALAH GIZI yang terjadi ditingkat keluarga, erat kaitannya dengan perilaku keluarga, tidak semata – mata disebabkan oleh kemiskinan dan ketidaktersediaan pangan. ☼ KEBERSAMAAN antar keluarga dapat memobilisasi masyarakat untuk memperbaiki keadaan gizi dan kesehatan. Suatu keluarga disebut KADARZI apabila telah berperilaku gizi yang baik yang dicirikan minimal dengan : - Memantau berat badan secara teratur
- Memberikan hanya ASI (Air Susu Ibu) saja kepada bayi, sejak lahir sampai usia 6 bulan ( ASI Ekslusif )
- Makan beraneka ragam
- Hanya mengkonsumsi garam beryodium
- Mendapatkan dan memberikan suplementasi gizi bagi anggota keluarga yang membutuhkan
1) Mengapa perlu memantau berat badan secara teratur? ■ Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan ■ Menimbang dapat dilakukan oleh keluarga dimana saja ■ Keluarga dapat mengenali masalah kesehatan dan gizi anggota keluarganya ■ Keluarga mampu mengatasi masalahnya baik oleh sendiri atau dengan bantuan petugas BAGAIMANA Memantau berat badan anak ? 1. Anak dapat ditimbang di rumah atau di Posyandu atau tempat lain 2. Berat badan anak dimasukkan ke dalam KMS ( Kartu Menuju Sehat ) 3. Bila grafik berat badan pada KMS Naik (sesuai garis pertumbuhannya), berarti anak sehat, bila tidak naik berarti ada penurunan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan dan perlu ditindak lanjuti oleh keluarga atau minta bantuan petugas kesehatan. 2) Mengapa Ibu harus memberikan ASI saja kepada bayi sampai usia 6 bulan ? Asi merupakan makanan bayi paling sempurna, bersih dan sehat yang dapat mencukupi kebutuhan gizi bayi untuk tumbuh kembang dengan normal sampai berusia 6 bulan (ASI Eksklusif). Praktis karena lebih mudah diberikan setiap saat, dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi serta menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi. Bagaimana Menyusui secara eksklusif ? ► Mulai memberikan ASI SEGERA setelah lahir ► Jangan diberikan makanan lain sampai bayi berumur 6 bulan ► Berikan ASI melalui payudara kiri dan kanan BERGANTIAN setiap kali menyusui ► Ibu menyusui perlu minum dan makan lebih banyak dengan MENU SEIMBANG 3) Mengapa perlu makan beraneka ragam ? Tubuh manusia memerlukan semua zat gizi ( energi,lemak, protein, vitamin dan mineral ) sesuai kebutuhan. Tidak ada satu jenis bahan makanan pun yang lengkap kandungan zat gizinya. Mengkonsumsi makanan beraneka ragam yang mengandung sumber energi, lemak, protein, vitamin dan mineral untuk menjamin pemenuhan kebutuhan gizi. 4) Mengapa keluarga perlu selalu mengkonsumsi garam beryodium ? Setiap keluarga perlu selalu mengkonsumsi garam beryodium karena zat yodium diperlukan tubuh setiap hari. Bila tubuh kekurangan yodium dalam waktu yang lama dan terus menerus akan menimbulkan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium ( GAKY ), diantaranya penurunan kecerdasan, gangguan pertumbuhan dan pembesaran kelanjar gondok. 5) Mengapa perlu suplementasi zat gizi ? □ Kebutuhan zat gizi pada kelompok bayi, balita, ibu hamil dan ibu menyusui meningkat dan seringkali tidak bias dipenuhi dari makanan sehari-hari, terutama vitamin A untuk balita, zat besi untuk ibu dan yodium untuk penduduk didaerah endemis. □ Suplementasi zat gizi (tablet, kapsul atau bentuk lain ) diperlukan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi tersebut. □ Apabila kebutuhan zat – zat gizi tersebut dipenuhi dari pengkayaan makanan. Maka suplementasi zat gizi dapat dihentikan secara bertahap. Bagaimana menilai keluarga sudah SADAR GIZI ? ■ Status gizi seluruh anggota keluarga khususnya ibu dan anak baik ■ Tidak ada lagi bayi berat lahir rendah pada keluarga ■ Semua anggota keluarga mengkonsumsi garam beryodium ■ Semua ibu memberikan hanya ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan ■ Semua balita dalam keluarga yang ditimbang naik berat badannya sesuai umur ■ Tidak ada masalah gizi lebih dalam keluarga Bagaimana menuju KADARZI ? Perilaku keluarga dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap, serta faktor-faktor lain seperti lingkungan, sosial ekonomi dan ketersediaan sumber daya . Ditingkat keluarga : ♦ Keluarga mencari informasi gizi yang tersedia secara terus menerus ♦ Tukar pengalaman antar keluarga serta pendampingan oleh tokoh masyarakat dan petugas ♦ Memanfaatkan fasilitas rujukan kompeten secara berjenjang yang terjangkau ( posyandu, puskesmas dan rumah sakit ) Ditingkat masyarakat : ♦ Terbentuknya kelompok masyarakat yang mendukung upaya menuju KADARZI (LSM; organisasi keagamaan; organisasi kepemudaan; PKK; kelompok budaya, organisasi profesi;oragnisasi wanita; pengusaha ) ♦ Setiap kelompok akses terhadap informasi gizi dan informasi system pelayanan ♦ Sekurangnya terdapat kader di masing – masing kelompok ♦ Setiap kelompok aktif menyediakan dan menyebarluaskan informasi dan sumber daya kesehatan dan gizi Ditingkat Pemerintah : ( Pusat, Propinsi dan Kabupaten ) ♦ Setiap sektor akses terhadap terhadap informasi dan pelayanan kesehatan dan gizi ♦ Setiap sektor mempertimbangkan aspek kesehatan dan gizi dalam merumuskan kebijakan sektor ♦ Setiap sektor menyediakan sumber daya untuk perbaikan kesehatan dan gizi masyarakat |