GEMMASS

  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi

Login



Pengunjung

Ada 4 tamu online
Angka Kesakitan

A.2 ANGKA KESAKITAN

Angka kesakitan penduduk didapat dari hasil pengumpulan data dari sarana pelayanan kesehatan (Facility Based Data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan. Adapun beberapa indikator dapat diuraikan sebagai berilkut:

1. Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit polio telah dilakukan melalui gerakan imunisasi polio. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus AFP kelompok umur <15 tahun hingga dalam kurun waktu tertentu, untuk mencari kemungkinan adanya virus polio liar yang berkembang di masyarakat dengan pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai. Ada 4 strategi dalam upaya pemberantasan polio, yaitu: imunisasi (yang meliputi peningkatan imunisasi rutin polio, PIN, dan Mop – up), surveilans AFP, sertifikasi bebas polio, dan pengamanan virus polio di laboratorium. Walau tindakan cepat dilakukan melalui kegiatan Outbreak Respons Immunization (ORI) 72 jam setelah penderita pertama dilaporkan, penemuan penderita terus bertambah. Hal ini disebabkan karena virus Polio sangat menular, dengan ditemukan satu penderita lumpuh berarti lebih dari 100 anak di sekitar penderita telah terinfeksi. (Depkes RI, 2007) Pada tahun 2007, di Banyuwangi ditemukan 5 kasus AFP pada penderita <15 tahun. Dengan jumlah penduduk <15 tahun sebanyak 388.537 jiwa, ditemukan AFP rate sebesar 1,29 per 100.000 penduduk <15 tahun, dan terjadi 1 kematian, sehingga CFR (Crude Fatality Rate) sebesar 20%. Kasus AFP terbanyak dilaporkan di kecamatan Banyuwangi, sebanyak 3 kasus. Sedangkan 2 kasus lain terjadi di kecamatan Wongsorejo dan Tegaldlimo, masing-masing 1 kasus.

2. TB Paru

Upaya pencegahan dan pemberantasan TB Paru dilakukan dengan pendekatan DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy) atau pengobatan TB paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). (Depkes RI, 2007) Pada tahun 2007 terdapat kasus BTA (+) sebanyak 758 orang, diobati 758 orang, dan yang sembuh 693 orang (91,42%). Penderita TB terbanyak terdapat pada Kecamatan Purwoharjo sebanyak 140 orang, sedangkan yang terendah terdapat pada Kecamatan Cluring dan Siliragung, dengan masing-masing sebanyak 1 orang penderita (lihat tabel 9)

3. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

ISPA masih merupakan penyakit utama penyebab kematian bayi dan balita di Indonesia. Dari beberapa hasil SKRT diketahui bahwa 80% - 90% dari seluruh kasus kematian akibat ISPA, disebabkan oleh pneumonia. Pneumonia merupakan penyebab kematian pada balita dengan peringkat pertama hasil Surkesnas 2001. ISPA sebagai penyebab utama kematian pada bayi dan balita diduga karena pneumonia merupakan penyakit yang akut dan kualitas penatalaksanaan masih belum memadai. Upaya dalam rangka pemberantasan penyakit infeksi saluran pernapasan akut lebih difokuskan pada upaya penemuan dini dan tatalaksana kasus yang cepat dan tepat terhadap penderita pneumonia balita yang ditemukan. Jumlah balita penderita pneumonia di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 yakni 1090 balita dan 100% ditangani (lihat Tabel 9)

4. HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS)

Penderita penyakit HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia, meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui penyuntikan, secara stimultan telah memperbesar tingkat resiko penyebaran HIV/AIDS. Jumlah penderita HIV/AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena gunung es, yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil dari pada kenyataan. Hal ini berarti bahwa jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti. Berdasarkan data dari Tabel 10 diperoleh jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 sebanyak 81 orang dan 100% ditangani. Upaya yang dilakukan dalam rangka pemberantasan HIV/AIDS, selain penanganan penderita yang ditemukan, juga diarahkan pada upaya pencegahan yang dilakukan melalui skreening HIV/AIDS terhadap darah donor.

5. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar luas ke seluruh wilayah propinsi. Penyakit ini sering muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan dan kematian relatif tinggi. Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada awalnya pola epidemik terjadi setiap lima tahunan, namun dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan periode antara 2 – 5 tahunan, sedangkan angka kematian cenderung menurun. Upaya pemberantasan DBD dititikberatkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3M), pemantauan angka bebas jentik (ABJ) serta pengenalan gejala DBD dan penanganan di rumah tangga. Jumlah kasus Deman Berdarah Dengue di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebanyak 788 kasus. Data dari Tabel 10 menunjukkan bahwa jumlah penderita keseluruhan telah diobati (100%). Kasus DBD terbanyak terdapat pada wilayah Kecamatan Banyuwangi sebanyak 114 kasus.

6. Diare

Angka kesakitan diare hasil survey tahun 1996 yaitu 280 per 1000 penduduk dan episode pada balita 1,08 kali per tahun. Menurut hasil SKRT dalam beberapa survei dan Surkesnas 2001, penyakit diare masih merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita (Depkes RI, 2003). Pada kasus kematian yang tinggi biasanya jumlah kematian terbanyak terjadi pada usia balita ketika saat itu mereka rentan terhadap penyakit. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 70% kematian disebabkan Diare, Penumonia, Campak, Malaria, dan Malnutrisi. (Depkes RI, 2007) Jumlah kasus diare di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 yang tercatat melalui data Profil Kesehatan dari 45 Puskesmas sebanyak 29.419 kasus, balita terkena diare yang ditangani sebanyak 13.830 dari 13.830 kasus balita yang terkena diare (100% ditangani) (lihat Tabel 10).

7. Malaria

Pada tahun 2007 perkembangan penyakit Malaria di Kabupaten Banyuwangi yang dipantau melalui Annual Pavasite Lincidence (API) dari hasil SPM penderita Malaria yang diobati sebesar 100% (3.153 penderita). Sedangkan penderita klinis sebanyak 3.141 dan terdapat 12 penderita positif Malaria, yakni tercatat pada Puskesmas Sumberberas dan Kedungwungu (lihat Tabel 11).

8. Kusta

Dalam kurun waktu 10 tahun (1991 – 2001), angka prevalensi penyakit Kusta secara nasional telah turun dari 4,5 per 10.000 penduduk pada tahun 1991, lalu turun menjadi 0,85 per 10.000 penduduk pada tahun 2001, pada tahun 2002 prevalensi sedikit meningkat menjkadi 0,95 per 10.000, dan pada tahun 2003 kembali menurun menjadi 0,8 per 10.000 penduduk. (Depkes RI, 2003). Meskipun Indonesia sudah mencapai eliminasi Kusta pada pertengahan tahun 2000, sampai saat ini penyakit Kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Hal ini terbukti dari masih tingginya jumlah penderita Kusta di Indonesia dan merupakan negara dengan urutan ketiga penderita terbanyak di dunia setelah India dan Brazil. Penyakit Kusta dapat mengakibatkan kecacatan pada penderita. Masalah ini diperberat dengan masih tingginya stigma di kalangan masyarakat dan sebagian petugas. Akibat dari kondisi ini, sebagian penderita dan mantan penderita dikucilkan sehingga tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan serta pekerjaan yang berakibat pada meningkatnya angka kemiskinan. Diketahui di Indonesia masih banyak menyimpan kantong-kantong Kusta yang kebanyakan berada di kawasan Timur Indonesia, salah satunya adalah Jawa Timur. Sedangkan kantong Kusta di Jawa Timur adalah di daerah pantai utara dan pulau Madura. Di Kabupaten Banyuwangi, jumlah penderita Kusta PB yang dilaporkan pada tahun 2007 sebanyak 1 orang dan yang telah selesai menjalani pengobatan (RFT PB) sebanyak 1 orang (100%). Sedangkan untuk Kusta tipe MB, jumlah penderita yang dilaporkan adalah sebanyak 54 orang, dan yang telah selesai menjalani pengobatan (RFT MB) sebanyak 50 orang (92,59%). Angka tersebut dapat dilihat pada Tabel 12.

9. Filaria

Program eliminasi filariasis dilaksanakan atas dasar kesepakatan global WHO tahun 2000, yaitu ”The Global Goal of Elimination of Lymphatic Fillariasis as a Public Health Problem The Year 2020”. Di Indonesia sampai dengan tahun 2003 kasus kronis Filariasis telah menyebar ke 30 propinsi dan telah ditemukan 3 species cacing filaria, yaitu Wucherecia Bancrofti, Brugia Malayi dan Brugia Timori. Pada tahun 2007 di Kabupaten Banyuwangi dari 2 orang penderita Filariasi, 100% telah ditangani.

10. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/ ditekan dengan pelaksanaan program imunisasi. Pada Profil Kesehatan ini akan dibahas penyakit Tetanus Neonatorum, Campak, Difteri, Pertusis, dan Hepatitis B.

a. Tetanus Neonatorum

Jumlah kasus Tetanus Neonatorum pada tahun 2003 sebanyak 175 kasus dengan angka kematian (CFR) 56% (Depkes RI, 2003). Angka ini sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya. Hal ini diduga karena meningkatnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan. Namun secara keseluruhan CFR masih tetap tinggi. Penanganan Tetanus Neonatorum memang tidak mudah, sehingga yang terpenting adalah usaha pencegahan, yaitu Pertolongan Persalinan yang higienis ditunjang dengan Imunisasi Tetanus Toxoid pada ibu hamil. Pada tahun 2007 di Kabupaten Banyuwangi terdapat 1 kasus Tetanus Neonatorum (Tabel 14), dan mengakibatkan kematian pada penderita. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan tahun 2006, dimana tidak terdapat kasus Tetanus Neonatorum.

b. Campak

Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sepanjang tahun 2003 frekuensi KLB Campak menempati urutan keempat, setelah DBD, Diare, dan Chikungunya dengan CFR 0,34% (Depkes RI, 2003). Jumlah kasus Campak di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007, hasil dari kompilasi data atau informasi dari 45 Puskesmas terdapat sebanyak 117 kasus. Jumlah ini menurun daripada tahun sebelumnya yang terdapat 177 kasus. Kasus terbanyak tercatat pada Puskesmas Sumberberas Kecamatan Muncar (lihat Tabel 14).

c. Difteri, Pertusis, Hepatitis B

Di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 tidak terdapat kasus Pertusis dan Hepatitis B. Tetapi pada tahun 2007 ini terdapat kenaikan jumlah kasus Difteri, yaitu sebesar 2 kasus, dari tahun sebelumnya yang tidak terdapat kasus Difteri (lihat Tabel 14).

 

APAKAH ANDA MASIH MEROKOK.... ??

Meski semua orang tahu bahaya yang ditimbulkan akibat rokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya merupakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Hal ini dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah, kantor, angkutan umum maupun di jalan-jalan. Hampir setiap saat di sebelah ibu yang sedang menggendong bayi sekalipun, seorang perokok tetap tenang mengembuskan asap rokoknya, dan biasanya orang-orang yang ada di sekelilingnya seringkali tidak peduli. Hal yang memprihatinkan adalah usia mulai merokok yang setiap tahun semakin muda. Bila dulu...

EFFEKTIFITAS FOGGING (PENGASAPAN) DALAM UPAYA PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH

EFFEKTIFITAS FOGGING (PENGASAPAN)  DALAM UPAYA PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH  Jumlah Kasus Demam Berdarah di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2088 menurun dibanding tahun 2007 sebanyak 226 kasus atau 28,68%. Hal ini disebabkan masyarakat mulai sadar akan pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui tiga kegiatan yaitu : menutup tempat-tempat penampungan air, menguras bak mandi dan menimbun kaleng bekas, botol yang tidak terpakai. ...

Gerakan Masyarakat Mandiri Sadar Sehat ( GEMMASS)

Gerakan Masyarakat Mandiri Sadar Sehat ( GEMMASS) Adalah suatu Kegiatan terpadu oleh Individu, Keluarga dan Masyarakat dengan dukungan semua sektor terkait dan tokoh masyarakat sehingga perilaku hidup bersih dan sehat dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari...
More: