GEMMASS

  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi

Login



Pengunjung

Ada 4 tamu online
Status Gizi
A.3 STATUS GIZI

Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator, antara lain bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi wanita usia subur Kurang Energi Kronis (KEK). Beberapa indikator tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Kunjungan Neonatus

Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0 – 28 hari) minimal dua kali, satu kali pada umur 0 – 7 hari dan satu kali lagi pada umur 8 – 28 hari. Dalam melaksanakan pelayanan neonatus, petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu.
Kunjungan neonatus (KN2) di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebesar 22.391 (88,23%) dari target sebanyak 25.379 neonatus. Cakupan ini meningkat dibanding tahun 2006 yang mencapai 87,48%. Cakupan tertinggi 98,98% adalah Puskesmas Singojuruh. Sedangkan yang terendah adalah Puskesmas Tapanrejo dengan cakupan 76,92% (lihat Tabel 15).

2. Kunjungan Bayi

Kunjungan bayi di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebesar 23.763 (48,47%) dari target sebanyak 49.024 bayi yang ada. Cakupan tertinggi 52,66% terdapat pada Puskesmas Yosomulyo. Sedangkan yang terendah pada Puskesmas Tapanrejo dengan cakupan 42,27% (lihat Tabel 15).

3. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori, yaitu BBLR karena premature atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria, dan menderita penyakit menular sexual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat kehamilan.
BBLR bersama kehamilan pendek mengakibatkan gangguan yang menjadi penyebab nomor 3 kematian masa perinatal di rumah sakit tahun 2005 (Depkes RI, 2007)
Jumlah BBLR yang dilaporkan selama tahun 2007 dari 45 puskesmas di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 184 (0,79%) dari 23.169 kelahiran hidup, dan 100% ditangani (lihat Tabel 15).

4. Status Gizi Balita

Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah pengukuran secara anthropometrik yang menggunakan indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U). Dari laporan hasil Survei Konsumsi Garam Yodium Rumah Tangga dan SKRT selama periode 1998 – 2000 persentase balita gizi buruk dan gizi kurang menurun. Namun, mulai tahun 2001 – 2005, persentase balita gizi buruk dan gizi kurang terus meningkat. Tahun 2005 diketahui bahwa persentase balita yang bergizi baik/normal sebesar 68,48%. (Depkes RI, 2007)
Jumlah balita gizi buruk di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebanyak 335 balita, atau sekitar 0,36% dari 91.891 balita yang ditimbang. Dan 100% balita gizi buruk mendapatkan perawatan (lihat Tabel 16).
Sedangkan berdasarkan penimbangan balita yang dilakukan selama tahun 2007, ternyata terdapat balita BGM sebesar 1,15% (sebanyak 1.053 Balita BGM dari 91.891 balita yang ditimbang). (lihat Tabel 16).

5. Kecamatan Bebas Rawan Gizi

Terbebas dari kelaparan dan malnutrisi sekaligus mendapat nutrisi yang baik adalah hak asasi manusia. Malnutrisi membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit dan kematian dini. Pengukuran antropometri untuk mendapat status gizi seseorang telah dikenal luas dan terutama dilakukan pada anak-anak. Rendahnya persentase berat badan terhadap usia mencerminkan akibat kumulatif dari malnutrisi yang berkepanjangan atau kekurangan nutrisi sejak lahir.
Pada tahun 2007, hampir semua kecamatan di kabupaten Banyuwangi berstatus bebas rawan gizi. Hanya kecamatan Wongsorejo yang belum berstatus bebas rawan Gizi.

Cremonti's Blog
 

APAKAH ANDA MASIH MEROKOK.... ??

Meski semua orang tahu bahaya yang ditimbulkan akibat rokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya merupakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Hal ini dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah, kantor, angkutan umum maupun di jalan-jalan. Hampir setiap saat di sebelah ibu yang sedang menggendong bayi sekalipun, seorang perokok tetap tenang mengembuskan asap rokoknya, dan biasanya orang-orang yang ada di sekelilingnya seringkali tidak peduli. Hal yang memprihatinkan adalah usia mulai merokok yang setiap tahun semakin muda. Bila dulu...

EFFEKTIFITAS FOGGING (PENGASAPAN) DALAM UPAYA PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH

EFFEKTIFITAS FOGGING (PENGASAPAN)  DALAM UPAYA PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH  Jumlah Kasus Demam Berdarah di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2088 menurun dibanding tahun 2007 sebanyak 226 kasus atau 28,68%. Hal ini disebabkan masyarakat mulai sadar akan pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui tiga kegiatan yaitu : menutup tempat-tempat penampungan air, menguras bak mandi dan menimbun kaleng bekas, botol yang tidak terpakai. ...

Gerakan Masyarakat Mandiri Sadar Sehat ( GEMMASS)

Gerakan Masyarakat Mandiri Sadar Sehat ( GEMMASS) Adalah suatu Kegiatan terpadu oleh Individu, Keluarga dan Masyarakat dengan dukungan semua sektor terkait dan tokoh masyarakat sehingga perilaku hidup bersih dan sehat dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari...
More: