GEMMASS

  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi
  • dinas kesehatan banyuwangi

Login



Pengunjung

Ada 2 tamu online
Pelayanan Kesehatan

B. 1 PELAYANAN KESEHATAN

1. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4)

Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan, dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilan, yang mengikuti pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif, dimana hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4.
Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 adalah gambaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester 1, sekali pada trimester 2, dua kali pada trimester 3. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil. (Depkes RI, 2007)
Adapun gambaran cakupan pelayanan K1 di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebesar 91,48% (25.524 Ibu Hamil). Sedangkan cakupan pelayanan K4 adalah sebesar 84,28% atau 23.514 dari 27.901 ibu hamil.
Cakupan tertinggi K1 adalah sebesar 99,39% pada Puskesmas Gendoh, dan cakupan K1 terendah, 76,88% pada Puskesmas Benculuk (Tabel 17).
Cakupan tertinggi K4: 95,55% pada Puskesmas Sambirejo, dan Cakupan K4 terendah, 69,5% pada Puskesmas Benculuk (Tabel 17).

2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan

Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan, hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan.
Adapun gambaran cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebesar 86,14% (22.133) dari target 25.694 persalinan, dengan cakupan tertinggi 98,34% pada Puskesmas Sobo. Sedangkan cakupan terendah pada Puskesmas Licin sebesar 72,96% (lihat Tabel 17).
Cakupan Pelayanan Ibu Nifas yang dilaporkan oleh 45 puskesmas di kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 adalah sebesar 88,04%, atau sekitar 22.620 dari 25.694 ibu bersalin.

3. Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah, Usia Sekolah, dan Remaja.

Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah, Usia Sekolah, dan Remaja dilakukan dengan pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak pra sekolah, pemeriksaan anak sekolah dasar/MI, serta pelayanan kesehatan remaja, baik dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta tenaga terlatih lainnya seperti kader kesehatan, guru UKS, dan dokter kecil.
Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita (Pra sekolah) di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 sebesar 43.963 (36,27%) dari target sebanyak 121.220 jiwa. Cakupan tertinggi 100% pada Puskesmas Purwoharjo dan terendah 4,97% pada Puskesmas Gitik.
Cakupan Pelayanan Kesehatan Siswa SD/MI di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebesar 20.557 (64,59%) dari target sebanyak 31.828 jiwa. Cakupan Pelayanan Kesehatan Remaja di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebesar 12.308 (51,13%) dari target sebanyak 24.073 remaja yang ada (lihat Tabel 18).

4. Pelayanan Keluarga Berencana.

Tingkat pencapaian Pelayanan Keluarga Berencana dapat digambarkan melalui cakupan peserta KB yang ditunjukkan melalui kelompok sasaran program yang sedang menggunakan alat kontrasepsi, tempat pelayanan serta jenis kontrasepsi yang digunakan akseptor.
Cakupan Pelayanan Keluarga Berencana Aktif di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 sebesar 246.750 atau 76,91% dari target sebanyak 320.829 PUS, dengan cakupan tertinggi 93,77% pada Puskesmas Purwoharjo, yang terendah adalah Puskesmas Sepanjang dengan cakupan 62,58% (lihat Tabel 19).
Sedangkan cakupan Pelayanan Keluarga Berencana Baru di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 sebesar 29.963 atau 9,34% dari target sebanyak 320.829 PUS, dengan cakupan tertinggi 17,36% pada Puskesmas Gendoh, yang terendah adalah Puskesmas Tapanrejo dengan cakupan 5,82% (lihat Tabel 19).
Jenis alat kontrasepsi yang paling diminati oleh peserta KB Aktif maupun peserta KB Baru adalah alat kontrasepsi jenis Suntik. (Tabel 20 dan Tabel 21)
image

5. Pelayanan Immunisasi

Pencapaian Universal Child Immunization pada dasarnya merupakan suatu gambaran terhadap cakupan atas imunisasi secara lengkap pada sekelompok bayi. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat atau bayi (herd immunity) terhadap penularan PD3I.
Suatu desa/kelurahan telah mencapai target UCI apabila >80% bayi di desa/kelurahan tersebut mendapat imunisasi lengkap. Pada Tabel 22 persentase Desa/kelurahan UCI di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 adalah sebesar 51,15%, atau sebanyak 111 desa/kelurahan UCI dari sebanyak 217 desa yang ada.
Sedangkan target pelayanan Immunisasi di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebesar 25.379 bayi, dengan cakupan imunisasi BCG sebesar 102,52% (26.018 bayi), DPT1+HB1 sebesar 101,49% (25.757 bayi), DPT3+HB3 sebesar 96,58% (24.511 bayi), Polio3 sebesar 96,78% (24.563 bayi), Campak sebesar 90,81% (23.046 bayi), dan Hepatitis B 0 – 7 hari sebesar 81,5% (20.685 bayi). Sedangkan drop out (DO) imunisasi DPT1 – Campak adalah sebesar 10,53%. (Tabel 23)

IMAGE


Upaya meningkatkan kekebalan pada masyarakat juga dilakukan pada kelompok-kelompok sasaran khusus lainnya, misalnya pemberian imunisasi TT pada Wanita Usia Subur. Di kabupaten Banyuwangi, dengan target sebanyak 23.169 WUS, Cakupan imunisasi TT1 sebesar 3.497 WUS (15,09%), cakupan TT2 sebesar 7.166 WUS (30,93%), cakupan TT3 sebesar 10.083 WUS (43,52%), cakupan TT4 sebesar 10.122 WUS (43,69%), dan cakupan TT5 sebesar 8.232 WUS (35,53%). (lihat Tabel 26)

6. Bayi BGM Keluarga Miskin dan Balita Gizi Buruk

Terbebas dari kelaparan dan malnutrisi sekaligus mendapat nutrisi yang baik adalah hak asasi manusia. Malnutrisi membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit dan kematian dini. Pengukuran antropometri untuk mendapatkan status gizi seseorang telah dikenal luas dan terutama dilakukan pada anak-anak. Rendahnya persentase berat badan terhadap usia mencerminkan akibat kumulatif dan malnutrisi yang berkepanjangan atau kekurangan nutrisi sejak lahir.
Selama tahun 2007, di Kabupaten Banyuwangi terdapat 26 bayi BGM dari keluarga miskin. Dari sejumlah itu, sebanyak 19 bayi (73,08%) mendapatkan MP – ASI. (Tabel 37)
Selain itu, terdapat sebanyak 335 balita gizi buruk atau sebesar 0,36% dari 91.891 balita yang ditimbang.

7. Pemberian Kapsul Vitamin A

Upaya perbaikan gizi masyarakat juga dilakukan pada beberapa sasaran yang diperkirakan banyak mengalami kekurangan terhadap Vitamin A, yang dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun. (Depkes RI, 2007)
Cakupan pemberian kapsul vitamin A dua kali per tahun di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007 sebanyak 102.466 (84,53%) dari target 121.220 balita, dengan cakupan tertinggi sebesar 100% pada Puskesmas Bajulmati, Mojopanggung, Benculuk, Jajag, Yosomulyo, Kembiritan, Sumberagung. Untuk cakupan terendah 28,95% pada Puskesmas Sambirejo (lihat Tabel 24).

8. Pemberian Tablet Besi

Pelayanan pemberian tablet besi dimaksudkan untuk mengatasi kasus Anemia serta meminimalisasi dampak buruk akibat kekurangan Fe, khususnya yang dialami ibu hamil. (Depkes RI, 2007)
Cakupan Pemberian Tablet Besi Fe1 di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007 adalah sebanyak 23.675 ibu hamil, atau sama dengan 84,85% dari 27.901 ibu hamil. Cakupan terendah 63,66% pada Puskesmas Genteng Kulon, dan tertinggi 100% di Puskesmas Tampo dan Jajag.
Sedangkan cakupan Pemberian Tablet Besi Fe3 di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007 adalah sebanyak 20.700 ibu hamil, atau sama dengan 74,19% dari 27.901 ibu hamil. Cakupan terendah 40,61% pada Puskesmas Kembiritan, dan tertinggi 95,58% di Puskesmas Singojuruh.

9. Ibu Hamil Resiko Tinggi yang Ditangani

Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas, beberapa ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (Risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan, maka kasus tersebut perlu dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai.
Jumlah ibu hamil resiko tinggi di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebanyak 4.057 jiwa, dengan resiko tinggi yang ditangani sebesar 100%. Rujukan resiko tinggi terbanyak adalah Puskesmas Yosomulyo sebanyak 201 ibu hamil risti dari 535 bumil yang ada. Sedangkan yang terendah terdapat pada Puskesmas Klatak (lihat Tabel 28). Adapun target Indonesia Sehat 2010 untuk ibu hamil resiko tinggi yang dirujuk sebesar 100%.

10. Neonatal Resiko Tinggi yang Ditangani

Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan goongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus.
Pada tahun 2007, ditemukan 1.824 neonatal risti/komplikasi di Kabupaten Banyuwangi, dan semuanya (100%) ditangani. (Tabel 28)

11. Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Gawat Darurat

Pada tahun 2007, di Kabupaten Banyuwangi baru terdapat 49,56% sarana kesehatan yang mempunyai kemampuan pelayanan gawat darurat (gadar), dengan rincian dari 6 rumah sakit umum yang ada, semuanya mempunyai Pelayanan gadar, 5 rumah sakit khusus dengan kemampuan pelayanan gawat darurat, dan semua (45) puskesmas yang ada mempunyai pelayanan gadar. (Tabel 29)

12. Kejadian Luar Biasa (KLB)

Selama tahun 2007, di kabupaten Banyuwangi telah terjadi 5 (lima) jenis KLB (Kejadian Luar Biasa), yaitu KLB AFP, Tetanus Neonatorum, Diphtery, Hepatitis, dan Diare. AFP menyerang 5 orang penderita dan mengakibatkan 1 orang meninggal. KLB TN menyerang 1 penderita dan mengakibatkan kematian, Diphtery menyerang 2 orang penderita dan 1 orang meninggal, Hepatitits menyerang 6 orang, tetapi tidak mengakibatkan kematian, sedangkan KLB Diare menyerang 11 orang, dan mengakibatkan 1 orang meninggal.

13. ASI Eksklusif

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI pada bayi mulai 0 – 6 bulan dalam rangka mencukupi kebutuhan gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi.
ASI diyakini dan bahkan terbukti memberi manfaat baik bagi bayi dari aspek Gizi (kolostrum yang mengandung imunoglobulin A/Ig A, whei-casein, decosahexanoic (DHA), dan arachidonic acid (AA) dengan komposisi sesuai), aspek imunologik (selain Ig A, terdapat laktoferin, Lysosim, dan 3 jenis leucosit yaitu brochus-associated lymphocyte, Gut associated lymphocyte tissue/GALT, mammary associated lymphocyte tissue/MALT serta faktor bifidus), aspek Psikologis (interaksi dan kasih sayang antara anak dan ibu), aspek kecerdasan, aspek neurologik (aktifitas menyerap ASI bermanfaat pada koordinasi syaraf bayi), aspek ekonomi, serta aspek penundaan kehamilan (metode amenorhea laktasi/MAL). Selain aspek-aspek tersebut, dengan ASI juga dapat melindungi bayi dari sindrom kematian bayi secara mendadak (Sudden Infant Death syndrome/SIDS). (Dinkes Prop. Jawa Timur, 2006)
Berdasarkan data Profil Kesehatan di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 jumlah bayi yang diberi ASI Eksklusif mencapai 30,38% (7.710) dari jumlah bayi yang ada sebanyak 25.379. Pencapaian ASI Eksklusif terendah 5,25% adalah Kecamatan Muncar (lihat Tabel 32).

14. WUS yang mendapat kapsul Yodium

Salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian adalah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). GAKY dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik dan keterbelakangan mental. Gangguan pertumbuhan fisik meliputi pembesaran kelenjar tiroid (gondok), bisu, tuli, kretin (kerdil), gangguan motorik, dan mata juling. Pemberian kapsul yodium dimaksudkan untuk mencegah lahirnya bayi kretin, karena itu sasaran pemberian kapsul yodium adalah Wanita Usia Subur (WUS) termasuk ibu hamil dan ibu nifas. Angka prevalensi gondok atau Total Goiter Rate (TGR) dihitung berdasarkan seluruh stadium pembesaran kelenjar, baik yang teraba (pallable), maupun yang terlihat (visible). GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat, karena secara umum prevalensinya masih di atas 5%.
Pemberian kapsul minyak beryodium dimaksudkan untuk menanggulangi kekurangan yodium secara cepat pada kelompok yang menderita kekurangan yodium dan untuk mencegah dampak negatif akibat kekuranagn yodium pada kelompok khusus, baik diberikan secara individual maupun secara massal.
Pada tahun 2007, dari sebanyak 160.947 WUS yang tercatat di desa/kelurahan endemis di kabupaten Banyuwangi, sebanyak 134.563 (83,61%) WUS yang mendapat kapsul Yodium. (Tabel 40)
Sementara itu, desa/kelurahan yang dilaporkan dengan garam beryodium baik di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebanyak 33 desa/kelurahan (15,21%) dari 217 desa/kelurahan yang ada (lihat Tabel 33).

15. Pelayanan Kesehatan Gigi

Untuk pelayanan kesehatan gigi dan mulut di puskesmas, diperoleh cakupan sebanyak 19.102, dengan rincian 5.885 untuk tumpatan gigi tetap, dan 13.217 untuk pencabutan gigi tetap. Jadi diperoleh rasio tambal : cabut sebesar 0,45. (Tabel 34)

16. Penyuluhan Kesehatan

Kegiatan penyuluhan kesehatan yang dilakukan di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007, baru terdapat pelaporan dari puskesmas. Sedangkan dari sarana kesehatan lain, termasuk rumah sakit, belum terdapat pencatatan dan pelaporan. (Tabel 35)

17. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembiayaan kesehatannya, sejak lama sudah dikembangkan berbagai cara untuk memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat.
Pada tabel 36, dapat dilihat, sebanyak 29,64% dari 1.576.328 jiwa penduduk kabupaten Banyuwangi menjadi peserta jaminan kesehatan pra bayar, dengan perincian 4,28% (67.537 jiwa) menjadi peserta ASKES, 0,92% (14.445 jiwa) menjadi peserta Jamsostek, 24,31% (383.257 jiwa) menjadi peserta Askeskin, dan 0,12% (1.964 jiwa) menjadi peserta Bapel JPKM. (Tabel 36)

18. Pelayanan Kesehatan Pekerja Formal

Dari tabel 38 dapat disimpulkan, bahwa dari sebanyak 30.651 pekerja formal yang ada, yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 18.109 (59,08%).

19. Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut

Cakupan Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 sebesar 153.659 (49,02%) dari sebanyak 313.485 jiwa, dengan cakupan tertinggi 100% pada Puskesmas Sobo, Sumberberas, Purwoharjo, dan Gendoh. Sedangkan cakupan terendah pada Puskesmas Kembiritan dengan cakupan 4,18% (lihat Tabel 39).

20. Darah Donor Diskrining terhadap HIV/AIDS

Berdasarkan data yang diperoleh dari Unit Transfusi Darah C PMI Banyuwangi, dari sebanyak 6.775 donor darah yang diperiksa, terdapat 12 (0,18%) donor darah yang positif HIV/AIDS. (Tabel 41)

 

APAKAH ANDA MASIH MEROKOK.... ??

Meski semua orang tahu bahaya yang ditimbulkan akibat rokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya merupakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Hal ini dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah, kantor, angkutan umum maupun di jalan-jalan. Hampir setiap saat di sebelah ibu yang sedang menggendong bayi sekalipun, seorang perokok tetap tenang mengembuskan asap rokoknya, dan biasanya orang-orang yang ada di sekelilingnya seringkali tidak peduli. Hal yang memprihatinkan adalah usia mulai merokok yang setiap tahun semakin muda. Bila dulu...

EFFEKTIFITAS FOGGING (PENGASAPAN) DALAM UPAYA PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH

EFFEKTIFITAS FOGGING (PENGASAPAN)  DALAM UPAYA PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH  Jumlah Kasus Demam Berdarah di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2088 menurun dibanding tahun 2007 sebanyak 226 kasus atau 28,68%. Hal ini disebabkan masyarakat mulai sadar akan pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui tiga kegiatan yaitu : menutup tempat-tempat penampungan air, menguras bak mandi dan menimbun kaleng bekas, botol yang tidak terpakai. ...

Gerakan Masyarakat Mandiri Sadar Sehat ( GEMMASS)

Gerakan Masyarakat Mandiri Sadar Sehat ( GEMMASS) Adalah suatu Kegiatan terpadu oleh Individu, Keluarga dan Masyarakat dengan dukungan semua sektor terkait dan tokoh masyarakat sehingga perilaku hidup bersih dan sehat dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari...
More: