Jumat, 03 Agu 2018, 19:45:02 WIB, 248 View Administrator, Kategori : Jemput Bola

Masalah kesehatan dan gizi di Indonesia pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi fokus perhatian karena tidak hanya berdampak pada angka kesakitan dan kematian pada ibu dan anak, melainkan juga memberikan konsekuensi kualitas hidup individu yang bersifat permanen sampai usia dewasa. Timbulnya masalah gizi pada anak usia di bawah dua tahun erat kaitannya dengan persiapan kesehatan dan gizi seorang perempuan untuk menjadi calon ibu, termasuk rematri (Remaja Putri).
Rematri pada masa pubertas sangat berisiko mengalami anemia gizi besi. Hal ini disebabkan banyaknya zat besi yang hilang selama menstruasi. Selain itu diperburuk oleh kurangnya asupan zat besi, dimana zat besi pada rematri sangat dibutuhkan tubuh untuk percepatan pertumbuhan dan perkembangan. Pada masa hamil, kebutuhan zat besi meningkat tiga kali lipat karena terjadi peningkatan jumlah sel darah merah ibu untuk memenuhi kebutuhan pembentukan plasenta dan pertumbuhan janin. 
Berkaitan dengan hal tersebut, Dinas Kesehatan Banyuwangi bekerjasama dengan PKK Kabupaten Banyuwangi mengadakan pertemuan pembentukan kader “si jari merah” (Generasi remaja putri merdeka dari kurang darah) untuk SMP sederajat, SMA sederajat dan santriwati, yang dilaksanakan di Aula Dinas Kesehatan Banyuwangi pada Hari Kamis, 02 Agustus 2018.
Dalam kegiatan tersebut  terdapat sebanyak  184 orang  yang terdiri dari 45 orang  siswa SMP dan SMA Sederajat, 4 orang Santriwati  yang ada di Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan, 45 orang  Guru UKS SMP sederajat dan SMA Sederajat, 45 orang  pengelola program gizi puskesmas dan 45 orang pengelola program UKS.
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, dr. Juwana menyampaikan di kabupaten Banyuwangi dilakukan pemeriksaan anemia pada remaja putri yang tercatat puskesmas kelir 65,33% dan terendah Puskesmas Jajag : 6,09 %. Dengan data tersebut Banyuwangi tercatat daerah yang memiliki data anemia tinggi di Jawa Timur. Berkaitan dengan masalah tersebut maka perlu dilakukan Peningkatan dan pengawasan pemberian Tablet Tambah Darah dengan membentuk kader di Sekolah dan Pemberian 1 tablet tambah darah seminggu sekali pada remaja putri disekolah. 

Sementara itu, menurut Ari Sa’adah S.Kep. Ners. Nutrition International Indonesia pendamping provinsi jawa timur mengatakan saat remaja putri menstruasi kebutuhan zat besi meningkat, kebutuhan zat besi tidak hanya dicukupi dari makanan yang bersumber dari nabati dan hewani tetapi perlu disuplementasi dengan TTD (Tambah Tambah Darah).
    
Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Banyuwangi, Ibu Dani Azwar Annas mengatakan acara ini dilakukan dalam upaya Menurunkan prevalensi anemia pada remaja putri dengan memperhatikan angka kecukupan gizi dan gizi seimbang.
Ibu Dani diakhir sambutannya mengajak semua pihak baik orang tua, guru, siswa dan petugas kesehatan bersama – sama mempunyai tekad dan kesadaran untuk membangun banyuwangi dengan membebaskan remaja putri dari anemia, sehingga generasi banyuwangi yang lebih baik, sehat dan menjadi genarasi yang bisa diandalkan.





Tuliskan Komentar