Inovasi Gancang Aron Masuk Jajaran Inovasi Terbaik Se-Indonesia

BANYUWANGI – Inovasi pengantaran obat secara gratis ke keluarga miskin Pemkab Banyuwangi masuk dalam jajaran Top 99 Inovasi Pelayanan Publik dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dari total 2.800 inovasi se-Indonesia. Inovasi yang dinamai Gancang aron atau Gugus Antisipasi Cegah Antrian Panjang dengan Antar Obat Pasien, Rabu, (18/07/18) telah dipaparkan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Annas di hadapan juri independen di kantor Kementerian PAN-RB.
Anas mengatakan, program pengantaran obat ke warga miskin itu dinamai Gugus Antisipasi Cegah Antrian Panjang dengan Antar Obat Pasien yang disingkat Gancang Aron. Dalam bahasa setempat, gancang aron berarti “semoga lekas sembuh”.
Analisa masalah yang mendasari dilahirkannya inovasi tersebut ialah waktu tunggu pelayanan pengambilan obat lama bisa mencapai + 4 jam dalam kondisi ramai, keluhan pasien terhadap pelayanan obat hampir 30% terus berulang bahkan sampai ke media social, IKM Farmasi terendah di RSUD Blambangan sebesar 71,4%, resep lolos (tidak dilayani) 27,8% dan pasien dengan kondisi akan bertambah sakit karena waktu tunggu yang lama.
Anas memaparkan penyiapan obat memang membutuhkan waktu karena harus diracik terlebih dahulu oleh apoteker. Tetapi bagaimana diupayakan untuk pasien tidak menjadi tambah sakit karenaharus menunggu lama untuk mengambil obat.

”Kasihan pasiennya. Sudah sakit, masih disuruh menunggu obat. Lalu kami coba atur strategi sampai lahir inovasi ini. Setelah berobat, pasiennya bisa langsung pulang beristrirahat di rumah. Obatnya nanti diantar setelah disiapkan apoteker. Gratis,” ungkap Anas, Kamis (19/7/2018).
Program pengantaran obat ke warga miskin yang telah berjalan sejak 2017 tersebut menggandeng salah satu perusahaan ojek online. Ini didasari karena Personel dan armada kendaraan rumah sakit terbatas.
”Personel dan armada kendaraan rumah sakit kami terbatas. Akhirnya kita kolaborasikan dengan ojek online. Dengan kolaborasi ini, kami lebih hemat karena tidak perlu pengadaan armada kendaraan,” tambahnya.
Keterlibatan ojek online pada pengantaran obat tersebut sempat ada pertentangan dari kalangan medis karena penyerahan obat harus diiringi dengan penjelasan terkait obat itu. Namun, setelah dikonsultasikan ke Kementerian Kesehatan, akhirnya kendala itu bisa mendapat jalan keluar.

“Tidak semua driver ojek online bisa mengantar obat. Kita seleksi dan kita berikan pendidikan khusus. Selain itu, juga ada sistem pengamanan lain untuk memastikan obat sampai serta informasi tentang obat itu sendiri tersampaikan dengan baik ke pasien,” papar Anas.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi dr Widji Lestariono menambahkan, ada sejumlah prosedur yang harus dilalui dalam program ini. Di antaranya, apoteker menentukan terlebih dahulu obat-obatan yang dapat diantar dan tidak untuk menjaga keamanan, fungsi dan kualitas obat. Pengemudi ojek online diberi edukasi khusus soal teknik pengantaran obat.

“Edukasi juga diberikan kepada pasien saat pertama kali berobat maupun secara tertulis ketika obat diantar oleh ojek online. Dengan catatan tertulis tersebut, dapat meminimalisasi terjadi kesalahan konsumsi,” ujarnya.

Obat juga dikemas khusus menggunakan plastik hitam agar tidak terkena matahari dan tak terbaca.
Setelah 1 tahun berjalan dampak implementasi inovasi tersebut dapat terlihat seperti waktu tunggu pengambilan obat ± 4 jam sebelum menggunakan Inovasi Gancang Aron, setelah menggunakan inovasi Gancang Aron menjadi ± 1 jam dan berkolaborasi dengan GOJEK menjadi ± 30 Menit, IKM yang dahulunya hanya 71,4% menggunakan gancang aron 78,99% dan berkolaborasi dengan gojek naik 81,73%, angka keluhan pasien dari 29% turun ke 5,7% dan saat ini 0%, resep lolos 27,8% turun menjadi 19% sekarang hanya 10% dan cakupan wilayah pelayanan yang dahulu hanya di dalam Rumah Sakit setelah menggunakan Gancang Aron mencakup 3 kecamatan dan saat ini berkolaborasi dengan Ojek Online dapat mencakup 25 Kecamatan.
Dalam paparan dan presentasi Bupati Banyuwangi di Kantor Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Inovasi Pemkab Banyuwangi mendapat apresiasi dari tim independen yang dipimpin JB Kristiadi.

1,345 Views

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *